Sabtu, 18 Mei 2013

Peneliti Senior: PKS Diskenariokan Karena Ingin Dihancurkan

Ilustrasi - KPK Berani Jujur, Hebat (inet)
Ilustrasi – KPK Berani Jujur, Hebat (inet)
dakwatuna.com - Kasus yang membelit di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) semakin lama, semakin panjang saja. Hal itu juga yang diduga kuat penuh dengan skenario guna menghancurkan partai berlambang bulan sabit kembar dan padi itu.
“Benar jika dalam kasus PKS sekarang ini ada muatan skenario yang ingin menghancurkan PKS. Makanya PKS melawan dengan membandingkan kasus yang dialaminya dengan beberapa kasus seperti Angie (Angelina Sondakh),” kata Senior Researcher di Founding Fathers House (FFH) Dian Permata, Sabtu (18/5/2013), sebagaimana dilansir Sindonews.
Maka itu, kata dia, PKS mulai membandingkan kasus dugaan suap impor daging sapi di Kementerian Pertanian (Kementan) yang menyeret mantan presidennya Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) dengan politikus Partai Demokrat itu yang jauh vonisnya dengan tuntutan jaksa.
Selain itu, jebolan Universitas Jayabaya ini mengatakan, adanya perbedaan perlakuaan yang didapat LHI dengan Angie. Pasalnya, Komisi Pemberantasan Koruspi (KPK) tidak mengejar harta yang dimiliki istri almarhum Aji Masaid sama seperti yang dihadapi LHI sekarang.
“Yang putusannya terlalu rendah, serta tidak ada penyitaan hartanya, KPK juga tidak mengejar harta Angie. Ini ada ketidak seimbangan hukuman yang dirasakan PKS dengan Partai Demokrat,” kata Dian.
Sekadar diketahui, Angie dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan hukuman 12 tahun penjara ditambah dengan denda Rp500 juta yang dapat diganti dengan kurungan enam bulan.
Hal itu karena JPU menilai, Angie terbukti menerima uang sebanyak Rp12,58 miliar dan USD2.350.000 dari Grup Permai secara bertahap. Uang itu merupakan imbalan karena Angie telah mengusahakan agar anggaran proyek perguruan tinggi di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan wisma atlet di Kementerian Pemudan dan Olahraga (Kemenpora) dapat disesuaikan dengan permintaan Grup Permai.
Tetapi majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta hanya memvonisnya dengan penjara 4,5 serta denda Rp2,5 juta. (Sindonews/mhd)
Redaktur: Hendra
Read more »

Pengakuan Ahmad Fathanah Menguntungkan PKS

Wijaya Kusumah
Blogger - Kompasioner


Saya terkejut mendengar pengakuan Ahmad Fathanah (AF) di televisi. Ternyata AF punya hutang sama ustadz LHI dan dia tak berniat memberikan uang 1 milyard utk PKS. AF pun minta maaf kepada PKS atas perilakunya yang tidak terpuji. Terbukti, AF bukan kader PKS, dan hanya teman ustadz LHI saja.
Kebenaran semakin terkuak. Pada akhirnya kebenaran itu akan menemukan jalannya sendiri. Kekuatan sosial media yang tidak memihak akan menjadi senjata yang membuktikan kebenaran itu.
Saya bukan kader PKS. Bukan juga simpatisannya. Namun saya melihat PKS akan diuntungkan dengan pernyataan af ini. Kita tunggu saja persidangan berikutnya. Pasti akan semakin seru.
Publik juga semakin tahu bahwa opini media yang mencap PKS menjadi partai korupsi sapi akan membuat PKS menjadi semakin bersinar di pemilu 2014. PKS akan terbukti menjadi partai yang amanah dan jauh dari korupsi. Semoga saja demikian.
Perlu kita ketahui, setiap kader PKS yang dijadikan tersangka oleh KPK terbukti tidak bersalah di pengadilan. Kasus Misbahkum misalnya, ternyata di persidangan beliau terbukti tidak bersalah.
Akan ada episode baru tentang Anas Urbaningrum dan Andi Malaranggeng dari Partai Demokrat yang akan jauh lebih dahsyat dari kasus AF dan LHI ini. Semoga media bisa fair memberitakannya.
Saya yakin ustadz LHI tak bersalah dan pasti beliau akan bebas karena bukti yang ada dapat dipatahkan di pengadilan. Nama PKS pun semakin bersinar dan kita akan melihat PKS akan menemui kejayaannya.
Pengakuan Ahmad Fathanah atau AF jelas sangat mengagetkan publik. Apalagi acara itu disiarkan secara live di televisi. Semoga kebenaran terkuak dan PKS menjadi partai teladan dambaan umat.

Salam blogger persahabatan

Omjay 
http://wijayalabs.com


*sumber: http://politik.kompasiana.com/2013/05/18/pengakuan-ahmad-fatonah-menguntung-pks-561328.html
Read more »

Teman Luthfi di Gontor: Kebenaran Akan Terungkap!


Teman akrab Luthfi Hasan Ishaaq di Pondok Pesantren Moderen Gontor, Anshary Siregar, yakin koleganya tidak bersalah dalam kasus korupsi pengurusan kouta impor daging sapi di Kementerian Pertanian.
Anshary berkilah, Luthfi hanya menjadi korban tahun politik menjelang pesta demokrasi 2014.
"Saya kenal baik Luthfi, kita satu pesantren di Gontor dan dia enggak kayak gitu kok. Ini kan tahun politik, (parpol) kompetitor sudah agak memanas," ungkap Anshary usai diskusi Polemik Sindo Radio di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (18/5/2013).
Anggota Badan Kehormatan (BK) DPR itu mengungkapkan, bahkan bukan hanya dia yang tidak habis pikir dengan penetapan Luthfi sebagai tersangka, ratusan ribu orang yang mengenal Lutfi dari partai PKS juga bingung mengapa.
"Kebenaran akan terungkap. Allah pasti akan menunjukkan kebenaran. Beberapa waktu lagi, kebenaran pasti terungkap," kata Anshary.
Seperti diberitakan, Januari lalu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Luthfi sebagai tersangka penerima suap Rp1 miliar dari PT Indoguna Utama terkait kasus pengurusan daging sapi impor.
Selain Luthfi turut ditangkap kolega mantan Presiden PKS itu, Ahmad Fathanah bersama seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat.
Kini berkas Luthfi dan Fathanah sudah dinyatakan lengkap dan akan segera disidangkan. "Direncanakan pekan depan LHI dan AF akan naik ke tahap dua (P21)," ujar Juru Bicara KPK, Johan Budi Rabu 15 Mei lalu. (okezone)
Read more »

PKS bukan Mie Instan!


PKS bukan Mie Instan!


By: Nandang Burhanudin

****

Semua pasti kenal dan pernah merasakan yang namanya mie instan. Karakternya hampir sama: cepat saji. mudah dibawa. Namun harus diingat, efeknya tidak tahan lama, mudah basi, dan tentu menurut penelitian ahli medis: berpenyakit!
Ada yang bertanya, mengapa kader-kader PKS begitu solid malah makin solid setelah kasus LHI? 
Jawabannya mudah:
PERTAMA: Interaksi kader-kader PKS di semua jenjang tidak berlangsung instan, minimal 3-6 tahun. Waktu selama itu, dipastikan cukup mengenal karakter-tabiat-dan watak seorang kader yang pasti berbeda satu sama lain.
Dalam interaksi itu, plus-minus sebagai manusia jamak terjadi. Ada masalah hutang piutang, masalah RT, ketersinggungan, hingga masalah komitmen. Layaknya manusia kebanyakan, hal itu lumrah terjadi dan bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Namun jika tuduhan itu hingga tingkat: hobi main perempuan, hobi korupsi, nampaknya terlalu mengada-ada dan semua kader pasti merasa tersinggung dan menolak keras.
KEDUA: Setiap kader yang ditunjuk mewakili PKS, tugas utamanya adalah BERDAKWAH. Jadi apapun di PKS, sifatnya bukan TAKRIM (pemuliaan) tapi TAKLIF (penugasan).
Memang, yang paling mencolok dari interaksi sosial kader-kader PKS adalah setelah banyaknya kader-kader yang "DITUGASKAN" berdakwah di parlemen, eksekutif, birokrasi, dan level-level "basah" lainnya.
Fitnah "basa-basah" ini mulai memunculkan syakwasangka. Entah karena kesibukan atau miskomunikasi, fitnah ini pula yang membuat beberapa kader "merasa" disingkirkan. Padahal jika sadar akan misi awal berdakwah, tak akan ada yang merasa termarjinalkan.
Namun, faktor tabiat dan karakter bawaan tadi, tak sedikit memunculkan ketersinggungan. Seakan ada "gap" jika seorang kader sudah menjadi Gubernur, Bupati/walikota, Aleg DPRRI atau DPRD. Kader-kader dibawah terjangkiti "ghil" (ketidakenakan hati), bahwa jerih payah mereka dilupakan. Sebaliknya para qiyadah merasa, tugas sebagai pejabat publik teramat banyak. Di sini sekali lagi, masalah komunikasi dan interaksi sosial paling menentukan.
KETIGA: Sistem Pembinaan PKS terstruktur dan massif.
Inti dari pembinaan di PKS sebenarnya lebih pada penekanan Hablum minallah dan hablumminnas. Namun direalisasikan dalam KERJA NYATA membangun negeri dengan penuh dedikasi tinggi.
Banyak yang menghubung-hubungkan PKS dengan IM di Mesir. Ini tidak terlalu salah. Karena memang buku-buku inspirasi pergerakan PKS, banyak menggunakan buku-buku IM, gerakan paling produktif di dunia. Disamping tidak menafikan buku-buku dari Salafy, Persis, NU, Muhammadiyah juga digunakan sebagai pembanding memahami realitas.
Target jalinan cinta dengan Allah adalah: terlatih khatam-hafal Al-Qur'an, Qiyamullail, Shaum Sunnah, Zakat, Haji. Selain itu dilatih juga untuk menjalin cinta dengan manusia melalui Yayasan, Sekolah, Baksos, Rumah Sakit, Shadaqah, Kurban, Olah raga, Kerja Bakti, dan menjadi donatur atau fasilitator bagi masyarakat tidak mampu. Maka prinsip PKS dalam interaksi sosial adalah:
1. Manjauhi perdebatan masalah ikhtilaf FIQH. Di PKS, kita akan temukan kader-kader dengan latarbelakang berbeda bahkan berasal dari semua ormas yang masih satu kiblat, satu Nabi, satu Al-Qur'an, hanya berbeda pemahaman Fiqh saja.

2. Menjauhi kebanggaan masalah suku atau asal muasal kedaerahan. Di PKS, biasa terjadi pengurus DPW-DPD di Jabar dipimpin kader-kader dari etnis Jawa, Makassar, atau Sumatera. Namun di daerah lain pun sama, di Jateng-DIY-Riau-Kaltim-Sumatera banyak kader-kader etnis Sunda yang menjadi pengurus teras di PKS.

3. Menjauhi kebanggan gelar pendidikan, dan delegasi penugasan (tauzhif) diberikan atas dasar kafaa'ah (kemampuan) bukan karena asal bergelar pendidikan. Maka di PKS, seorang kader yang berprofesi sebagai tukang bangunan bisa jadi memimpin grup halaqoh yang diisi sarjana.
KEEMPAT: Misi besar PKS adalah menghadirkan keadilan dan kesejahteraan, yang otomatis tantangannya harus berhadapan dengan mafia-mafia penguasa negeri ini.
Maka kader-kader PKS dari awal sudah sadar, efek dari komitmen membangun kemandirian negeri dan bangsa, akan dibenturkan dengan berbagai fitnah.
Di sini, Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna mengingatkan: 
"Wahai Ikhwan, sungguh aku sama sekali tak khawatir jika seluruh dunia bersatu untuk melibas kalian. Sebab dengan izin Allah, kalian lebih kuat daripada mereka. Tapi aku khawatirkan 2 hal menimpa kalian:
1. Aku khawatir kalian melupakan Allah, hingga Allah membiarkan kalian.
2. Atau kalian melupakan ikhwah-ikhwah, hingga akhirnya satu sama lain saling memperdayai."
Jadi, sikap solid kader-kader PKS bukan didasari kegilaan pada qiyadah, atau ketaatan buta terhadap pengurus partai, namun lebih didasari pada kenyataan: Tidak mudah menemukan komunitas yang memadukan keshalihan ritual-sosial dengan langkah nyata di tataran nyata dan berefek komunal.
Jadi bila ada kader semisal Margono, maka bisa dipastikan ia adalah kader Mie Instan!
Read more »

 

KABAR DPC

KIPRAH KEWANITAAN