Sabtu, 13 April 2013

Anis Matta Nyatakan Siap Maju Capres Jika PKS Masuk 3 Besar

BALIKPAPAN - Presiden Partai Keadilan Sejahtera, M Anis Matta mengaku siap bertarung menjadi Calon Presiden RI (capres) dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 mendatang, jika PKS masuk dalam tiga besar.
Kesiapan itu Anis sampaikan setelah diskusi bersama Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim Achmad Subechi dan awak redaksi Tribun Kaltim di Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (12/4/2013).
Anis Matta masih ragu-ragu untuk tampil sebagai Capres pada Pilpres 2014.
"Seperti saya katakan lima tahun lalu ketika kita ketemu di tepi Teluk Balikpapan, siapkan diri anda menjadi presiden. Sekarang bola sudah ada di tangan... Ini momentum. Kalah menang dicoba dan tidak ada ruginya. Ini eranya anak muda. Apakah anda siap maju menjadi presiden?" tanya Achmad Subechi kepada Anis.
Mendapat pertanyaan itu sontak ruangan rapat Tribun Kaltim yang dipenuhi kader PKS, menjadi riuh rendah. Tepuk tangan membahana di seantero ruangan.
Anis Matta terlihat menghelai nafas.
"Kita dapat provokasi yang luar biasa. Kemarin pertanyaan ini sudah kita tanyakan ke Pak Habibie. Kata Pak Habibie presiden mendatang itu usianya 40-60 tahun. Tapi kalau anda tanya secara pribadi, di kepala saya sekarang ini bagaimana membawa PKS masuk dalam tiga besar. Setelah itu baru saya mikirin langkah kedua," katanya.
"Setelah masuk tiga besar, anda akan siap?" kejar Achmad Subechi. "Kalau anda tanya apakah saya siap? Saya siap....! Di PKS tidak ada yang tidak siap. Sekarang saya bekerja secara bertahap dan saya terbiasa bekerja dengan tahapan-tahapan yang terukur. Saya benar-benar fokus agar PKS masuk tiga besar dan ini amanah. Kalau Insya Allah kita masuk ketiga besar, maka akan kita pikirkan kompetisi yang kedua ini (Pilpres)," tuturnya.
"Saya mau tanya dulu, saya ini bukan orang Jawa," tanya Anis. "Emang orang di luar Jawa tidak boleh jadi presiden?" tanya Achmad Subechi.
Lalu siapa lawan terberat capres 2014 menurut anda? "Saya tidak melihat dalam perspektif itu. Karena saya melihat perspektif tiga besar. Saya tidak melihat kompetitor itu sebagai perorangan. Cuma saya melihat begini dari tahun 1999 sampai 2009 tren partai decline. Kita sekarang trendnya naik. Biasanya itu akan terjadi kontraksi pada waktu terjadi shifting. PKS berbeda dengan partai lain, karena yang kuat di PKS adalah organisasinya dan bukan sekedar figur. Ini adalah partai yang melahirkan tokoh. Bukan tokoh yang melahirkan partai."
Dalam kesempatan itu, Anis Matta mencontohkan keberhasilan dua calon gubernur yang digadang-gadang PKS akhirnya terpilih menjadi gubernur. Keduanya adalah Ahmad Heryawan (Gubernur Jawa Barat terpilih) dan Gatot Pujo Nugroho (Gubernur Sumatera Utara).
"Ahmad Heryawan seorang guru bahasa Arab digodok-godok, jadilah gubernur. Gatot Pujo Nugroho seorang insinyur, digodok-godok menjadi gubernur," tuturnya.
"Sekarang Presiden PKS, digodok-godok jadi presiden..." kelakar Achmad Subechi.
Anis Matta sengaja datang ke kantor Tribun Kaltim untuk melakukan silahturahmi didampingi Sekjen PKS Muhammad Taufik Ridho, Ketua DPP PKS Bidang Pembangunan Ummat Raihan Iskandar, Ketua DPP PKS Bidang Generasi Muda dan Profesi Ahmad Sumiyanto, Wakil Sekjen DPP PKS Fahri Hamzah, Ketua DPW PKS Kaltim Masykur Sarmian, Ketua DPP PKS Wilda Kalimantan H Hadi Mulyadi, Wakil Ketua DPP PKS Dr Najamuddin Marahamid, Ketua DPD PKS Balikpapan Syukri Wahid dan para pimpinan DPW PKS Kaltim.
"Ini bagian dari silaturahim yang saya lakukan sejak saya menjadi Presiden PKS. Saya memimpin dalam keadaan darurat, karena itu saya langsung menetapkan dua target. Pertama mencegah terjadinya demoralisasi. Kedua mempertahankan kepercayaan publik. Karena itu saya langsung melakukan roadshow. Alhamdulillah berlangsung sampai sekarang dan keadaan PKS jauh lebih bagus, jauh lebih solid dan jauh lebih kuat," ungkapnya.
Rombongan PKS disambut Pemred Tribun Kaltim Achmad Subechi, Redaktur Pelaksana Priyo Suwarna, Manajer Sirkulasi Iskandar dan beberapa pimpinan lainnya.
Dalam kesempatan itu Anis Matta juga bercerita soal musibah yang belum lama ini menimpa PKS. "Saya bisa mengatakan musibah ini membawa berkah bagi PKS, dan menjadi momentum pembenahan dan kebangkitan bagi PKS. Saya bisa mengatakan ibarat pesawat enginenya sudah kita perbaiki semuanya, sudah siap terbang, landasan juga sudah siapkan dan bulan april ini Insya Allah kita siap take off," tambahnya.
Ia juga merasa bersyukur  bahwa kepercayaan publik terhadap PKS sudah bagus. Indikatornya, Pilkada di Jabar dan Sumut dimenangkan PKS.
"Alhamdulillah kita bisa memenangkan pilkada ini. Artinya apa, kepercayaan publik kepada PKS jauh lebih bagus dari yang kami perkirakan. Belum lagi hasil survey partai elektabilitasnya juga naik. Artinya apa? Misi yang saya emban ini berhasil dan Insya Allah kita akan mendeklarasikan bahwa kita siap untuk take off nanti di Semarang, milad PKS tanggal 20 April sekaligus rapimnas."
Sejak menjadi Presiden PKS, Anis Matta mengaku jarang berada di Jakarta. Ia selalu keliling daerah untuk melakukan konsolidasi.
"Saya hampir tidak ada di Jakarta sejak jadi Presiden PKS. Mengapa? karena Jakarta hawanya hawa perang. Kalau kita masuk ke Jakarta mindset kita harus kita rubah," jelasnya.
Apalagi, belakangan ini Anis Matta menangkap kesan kuat bahwa di level nasional ada tren yang berorientasi merubah
wajah politik kita kepada tren destruktif, trend bumi hangus.
"Bahasa Hawanya tiji tibeh (mati satu mati semua). Jadi trend ini yang mengubah wajah politik ini menjadi keras. Bahkan saya sering mengistilahkan politik menjadi dangerous game, permainan politik yang berbahaya, mengerikan dan menakutkan. Ada character assassination.
"Coba anda lihat politisi muda yang terpental dari panggung. Setengah mati sekolah jauh-jauh, di usia muda terlempar dari panggung politik. lenyap..."
Konflik elite semacam ini kata Ani Matta membuat elite politik tidak mengurusi publik. "Sehingga saya jadi mengerti kenapa anak anak muda menjadi apolitis, karena mereka tidak melihat gunannya. Apa  politik sekarang? Tidak bersentuhan dengan masyarakat. Padahal politik itu hakekatnya adalah cara kita sebagai manusia mengatur kehidupan publik kita sebagai manusia. Sehinggga kita bisa merubah permusuhan menjadi persahabatan, bisa mengubah kompetisi menjadi kolaborasi. Kalau toh ada kompetisi, pada akhirnya kompetsi kreatiftas."
Berangkat dari situlah, maka semua kader PKS dhimbau agar keluar dari konflik semacam itu. "Kita akan ketemu orang silaturahim, merekonstruksi kembali bangunan politik yang sesungguhnya. Dan menurut saya kita bisa melakukan ini manakala kita memberikan satu energi baru ke tangan politik yaitu cinta. Kalau kita datang dengan semangat cinta ke dalam politik, ini akan merubah wajah politik yang keras jadi lembut, yang bermusuhan menjadi bersahabat dan keragaman bukan menjadi sumber konflik, tetapi menjadi sumber kekuatan, sumber kolektivitas. Jadi kalau kita memberikan sentuhan cinta kepada kekuasaan, maka wajah politik kita akan berubah."
Ia mencontohkan, karut-marut dalam penerapan hukum disebabkan karena orang datang dengan semangat kebencian, semangat menghukum, bukan datang dengan semangat keadilan. Ini yang membuat pelaksanaan penerapan hukum menjadi berat.
"Kini setelah saya keliling hampir tiga bulan, politik ini jadi enak, kita bisa rileks dan tidak tegang serta kita tidak kehilangan hubungan kemanusiaan yang murni hanya karena kita sedang berkompetisi. Dan tema ini akan menjadi tagline PKS menghadirkan cinta dalam politik."
Seusai pertemuan Anis Matta memberikan cinderamata berupa karikatur gambar dirinya yang sedang berjabat tangan dengan Pemred Tribun Kaltim Achmad Subechi.  (*)
*http://www.tribunnews.com/2013/04/12/anit-matta-maju-capres-jika-pks-masuk-3-besar

0 komentar:

Posting Komentar

 

KABAR DPC

KIPRAH KEWANITAAN